× BERANDA SELAMI ISO SERTIFIKAT INSTRUKTUR KAMI MASUK
2020-03-04 - Diva Elfreda

PEDOMAN UMUM WISATA LUMBA – LUMBA

Halo para penyelam dan penikmat wisata bahari. Di artikel kali ini, Dive ISO ingin membagikan informasi mengenai pedoman umum sewaktu wisata dengan hewan laut yang sangat luar biasa cerdas dan cantik, lumba-lumba. Sumber artikel disadar dari publikasi dari Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Kami sadar disini agar membantu meningkatkan kesadaran para penikmat wisata bahari dan penyelam di Indonesia. Ingat jangan takut ya untuk memberitahukan pihak yang tidak paham/patuh dengan peraturan yang sudah ada.

 

Tentang Lumba-lumba

            Secara singkat, Lumba-lumba termasuk dalam Ordo Cetacea hewan menyusui yang sepanjang hidupnya ada di perairan dan telah melakukan berbagai adaptasi untuk kehidupan di lingkungan ini. Melihat pentingnya perhatian bagi lumba-lumba yang menjadi obyek wisata dan pentingnya pengelolaan pada wisata ini, maka dibuatlah sebuah pedoman umum yang mengatur kegiatan wisata melihat lumba-lumba untuk menghindari terganggunya lumba-lumba.

 

Penyebab Terganggunya Lumba-Lumba

                Untuk diketahui penyebab gangguan yang terjadi pada lumba-lumba dapat dikelompokkan menjadi 6 aspek diantaranya :

1.     Dampak langsung kapal : kapal adalah moda transportasi yang digunakan untuk melakukan wisata melihat lumba-lumba di Indonesia. Beberapa gangguan yang terjadi pada lumba-lumba akibat dampak langsung dari kapal sebagai berikut :

Pada lumba-lumba sering terlihat bekas luka yang disebabkan oleh baling-baling kapal.

> Anak lumba-lumba sering terpisah dari induknya, terutama jika terdapat beberapa perahu di sekitar lumba-lumba yang sedang berkelompok.

> Satwa bisa merasa terjebak jika dikelilingi dengan cara apapun, atau merasa diburu jika diikuti secara terus menerus.

2.    Kebisingan : kebisingan atau polusi suara dapat menjadi pengganggu bagi kehidupan lumba-lumba.

> Kebisingan biasanya dianggap sebagai bentuk gangguan. Kebisingan yang bukan dianggap sebagai gangguan adalah kebisingan yang dapat mengurangi kemungkinan hewan tersebut kaget. Kebisingan juga sebagai peringatan bagi paus akan kedatangan manusia, dan memungkinkan paus mengetahui keberadaan kita.

> Kebisingan mesin yang banyak sebenarnya dibawah kisaran pendengaran lumba-lumba kecil, namun suara bernada tinggi, terutama terkait dengan speedboat dan jet ski, mungkin mengganggu. Paus (whale) lebih sensitif terhadap frekuensi suara rendah yang biasanya diproduksi oleh mesin perahu.

> Kebisingan mesin dan lainnya dapat mengganggu komunikasi antara hewan, tetapi disisi lain kebisingan dapat meredam suara dari predator atau pemangsa. Hal ini tentu saja dapat menurunkan kewaspadaan satwa dan berakibat buruk bagi satwa tersebut.

3.    Kecepatan kapal : kecepatan kapal dalam melakukan wisata lumba-lumba harus diperhatikan dengan baik, karena hal ini merupakan hal penting dalam menjaga keselamatan, baik satwa maupun wisatawan.

> Kecepatan kapal dapat memperbesar kemungkinan tabrakan dan tingkat keparahan cedera. Kebisingan dan bentuk lain dari gangguan juga dapat dikaitkan dengan peningkatan kecepatan.

> Kecepatan kapal yang disarankan kurang dari 6 knot ketika dekat dengan hewan laut. Dalam hal ini yang direkomendasikan adalah menjaga kecepatan yang stabil.

4.    Memberi makan (feeding) : memberi makan satwa liar dalam wisata pada dasarnya tidak diperbolehkan karena berbagai alasan. Alasan larangan tersebut adalah sebagai berikut :

> Satwa mungkin tampak jinak tetapi menjadi agresif dalam jarak dekat dan berpotensi membahayakan bagi wisatawan.

> Satwa mungkin menjadi tergantung pada makanan yang diberikan, dan karena itu menjadi rentan ketika tidak tersedia.

> Makanan yang ditawarkan mungkin tidak cocok bagi satwa dan bahkan membahayakan.

> Mengamati terlalu dekat sambil memberi makanan akan beresiko terjadi tabrakan dan baling-baling kapal dapat melukai satwa.

> Ada kemungkinan terjadi penularan penyakit antara manusia dan lumba-lumba,saat terjadi kontak fisik.

5.    Berenang : berenang dengan satwa liar di alam bebas dalam hal ini lumba-lumba, tidak dianggap best pratice. Pelarangan ini disebabkan oleh : 

> Ketika wisatawan berenang dekat dengan satwa laut, kapal yang digunakan kemugkinan akan beroperasi dekat dengan satwa, yaitu dapat meningkatkan resiko tabrakan dan terkena baling-baling kapal.

> Lumba-lumba adalah satwa liar dan karena itu berpotensi menimbulkan bahaya bagi wisatawan. Satwa laut dikenal sering menggigit orang.

> Aktivitas berenang dengan lumba-lumba akan menghabiskan banyak waktu dan secara komulatif akan meningkatkan gangguan terhadap lumba-lumba tersebut.

> Ada kemungkinan terjadi penularan penyakit antara manusia dan lumba-lumba.

6.    Meningkatnya intensitas pertemuan dengan manusia : Dengan semakin banyaknya wisatawan, maka satwa akan semakin sering berinteraksi dengan manusia. Ada beberapa hal negatif yang terjadi akibat hal ini diantaranya :

> Menurunnya kewaspadaan satwa liar pada manusia, hal ini dapat menyebabkan satwa mendekati kapal dan rentan terjadi kecelakaan.

Terutama pada satwa muda yang sedang dalam proses pengenalan diri dapat meningkatkan resiko stres.

> Jika satwa merasa terganggu maka dapat menyebabkan perubahan pola distribusi.

> Kunjungan wisatawan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan juga akan berdampak negatif berupa kerusakan lingkungan.

 

Reaksi Saat Lumba-Lumba Terganggu

        Penting juga untuk diketahui beberapa tanda-tanda umum lumba-lumba merasa terganggu agar wisatawan dapat mengetahui potensi bahaya yang ada. Tanda-tanda tersebut antara lain :

1.        Menengadahan kepala

2.      Terdiam atau waspada

3.      Bergerak menjauhi sumber gangguan

4.      Terjadinya pergerakan tiba-tiba dan tidak beraturan

5.      Seketika membentuk kelompok / bergerombol

6.      Tamparan kepala atau ekor ke permukaan air

7.      Perubahan perilaku menyelam dan lebih jarang muncul ke permukaan air

8.      Perubahan pola pernapasan

9.      Perubahan jumlah kelompok

10.   Adanya peningkatan vokalisasi (bisa diketahui melalui hidrofon kapal)

11.     Menyerang wisatawan atau sesama satwa

12.   Satwa betina bergegas / bermanuver untuk melindungi anaknya

 

Panduan Bagi Wisatawan dan Operator Wisata

                Berikut adalah petunjuk wisata melihat lumba-lumba di alamnya untuk wisatawan dan operator wisata / guide.

            1.     Bagi Wisatawan :

Wisatawan sebagai pengunjung juga harus memiliki pengetahuan dasar mengenai lokasi wisata yang dikunjungi dan karakteristik satwa yang akan dilihat. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh wisatawan, antara lain :

·         Pilih operator wisata yang mengerti tentang satwa laut yang akan ditemui. Hal ini bisa diketahui melalui kelengkapan informasi yang dimiliki oleh operator wisata.

·         Ketahui dan pahami peraturan-peraturan yang berlaku di lokasi wisata.

·         Hormati budaya dan kearifan lokal masyarakat sekitar lokasi. Mulai dari cara berpakaian hingga larangan berkunjung ke lokasi-lokasi tertentu karena alasan adat atau norma setempat.

·         Pastikan operator wisata memiliki peralatan yang memadai untuk pertolongan pertama pada kecelakaan, seperti perlengkapan P3K, radio/alat komunikasi, pelampung, dsb.

·         Hindari mendekati atau mengganggu satwa yang akan naik kepermukaan air.

·         Jangan membuang sampah sembarangan.

·         Hindari kontak fisik atau bersentuhan dengan satwa.

·         Jangan mengambil, membeli, serta memperdagangkan satwa dan produk turunannya.

2. Bagi Operator Wisata (guide)

Bagi operator wisata yang akan melakukan aktivitas pengamatan dan interaksi satwa liar di habitat alaminya :

·         Pahamilah lokasi wisata yang dipilih, terutama jika berada di dalam kawasan konservasi.

·         Pahamilah aturan-aturan tentang perlindungan satwa yang berada di lokasi.

·         Selalu berhati-hati dengan induk yang sedang berenang dengan anaknya, dan jangan samapi memisahkannya.

·         Dokumentasi dapat berupa foto atau video yang diberitanggal dan mencakup informasi-informasi seperti :

·         Nama operator wisata

·         Jumlah wisatawan

·         Waktu aktivitas berlangsung

·         Titik perjumpaan dengan satwa ( melalui koordinat GPS ).

·         Jenis dan jumlah satwa yang dijumpai

·         Perilaku atau aktivitas yang dilakukan oleh satwa yang dijumpai

·         Kondisi lokasi saat pengamatan satwa berlangsung.

·         Dianjurkan untuk menyimpan dengan baik hasil dokumentasi pengamatan dan berinteraksi dengan satwa di habitat alamnya.

·         Lapor kepada pemerintah setempat mengenai gangguan atau kerusakan lingkungan yang ditemui di lokasi wisata.

 

Panduan bagi Operator Alat Transportasi / Kapten Kapal 

                Panduan bagi alat transportasi dari ketiga ini adalah sebagai berikut :

1.   Saat mendekati satwa

·      Turunkan kecepatan kapal secara perlahan-lahan dan pertahankan hingga 7 km per jam atau kecepatan yang tidak menimbulkan ombak (no wake speed).

·   Jaga kecepatan kapal agar tidak melebihi kecepatan satwa yang berenang paling lambat dalam kelompoknya.

·      Hindari zona waspada melihat anak paus atau anak lumba-lumba.

·      Jika berada di dalam kapal, minimalkan suara kapal agar tidak mengganggu dan melukai satwa.

·      Jika melihat satwa dari udara, jangan terbang tepat di atas satwa karena akan mengganggunya.

2. Saat mengamati satwa

·      Untuk pengamatan lumba-lumba, gunakan binokular, teleskop, atau lensa zoom.

·      Hindari membuat suara bising, lumba-lumba adalah satwa yang sensitif terhadap suara. Waktu pengamatan lumba-lumba dianjurkan tidak lebih dari 20 menit demi menghindari stres pada satwa.

·      Jangan mengoperasikan kapal ke wilayah pengamatan apabila di wilayah tersebut sudah terdapat tiga buah kapal berukuran sedang (kapasitas 15-20 penumpang) atau sepuluh kapal jukung/sampan (kapasitas 4-5 orang). Antar kapal dianjurkan untuk saling berkoordinasi terkait hal ini.

·      Batasi wktu pengamatan dan interaksi dengan satwa :

·      Lebih dari satu kapal : 15 menit

·      Satu kapal : 30 menit

·      Jika satwa menunjukkan tanda-tanda terganggu segera tinggalkan lokasi pengamatan.

·      Jangan memasuki zona waspada jika melihat ada satwa yang terlilit jaring nelayan

3. Saat menjauhi satwa

·      Ubah arah kapal secara perlahan

·      Tetap menjaga kecepatan konstan 5 knot

·      Rawat mesin dan baling-baling kapal, jika memungkinkan pasang pelindung baling-baling untuk mencegah suara bising pada mesin kapal.

 

        Nah begitu kira kira panduan singkat dalam melakukan wisata bahari dengan lumba-lumba. Terima kasih ya sudah meluangkan waktu untuk membaca. Semoga artikel ini dapat memberikan kesadaran yang lebih bagi para wisatawan bahari di Indonesia. Salam buoyancy! Tunggu tulisan kami selanjutnya ya!


Referensi:

Pedoman Umum Wisata Lumba-lumba diterbitkan oleh Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanana Republik Indonesia tahun 2016.

Gabung & Selami Pesona Bawah Laut Indonesia

TEMUI INSTRUKTURMU